25 hal yang saya pelajari sesudah launching MVP pertama saya dalam waktu 3 minggu

  1. Siapa Buyer Persona saya?

Buyer Persona contohnya seperti ini,
Youtube: Orang yang ingin membagikan videonya kepada dunia
Medium: Orang yang ingin menulis sesuatu (blog)
Facebook: Orang yang ingin berhubungan dengan teman lama
Site2Static: ???

Mungkin kalo sekarang jadi serperti ini: “Orang yang ingin membuat website secara cepat, tapi tidak ingin membayar mahal untuk biaya hosting“.

Itulah kesalahan saya, ketika kamu membuat suatu produk, apalagi menjadi seorang solo founder seperti saya, harusnya juga diperhitungkan untuk cara monetize-nya, dan dari awal saya sudah salah, karena menargetkan orang yang tidak mau membayar mahal. Sebenarnya bisa sih untuk nantinya dipasang iklan, tapi saya gak suka, saya saja sampai sekarang masih pake AdBlocker hahaha. Dan ya sudahlah karena sebenarnya tujuan awal saya membangun Site2Static adalah untuk memecahkan masalah saya sendiri, akhirnya saya putuskan memang untuk tidak memonetize-nya.

  1. Apa masalah sebenarnya yang ingin saya pecahkan?

Karena startup ada untuk memecahkan masalah, maka dari itu saya selalu berusaha mencari-cari masalah (serius), bahkan saya punya kebiasaan untuk selalu menulis masalah yang saya hadapi setiap hari di ToDo list saya, dan itu cukup berhasil, karena kalau tidak ditulis pasti saya lupa. Jangan sekali-kali membuat startup hanya menyuguhkan solusi, sudah ada banyak yang gagal gara-gara tidak tahu sebenarnya masalah apa yang ingin diselesaikan.

  1. Kesulitan dalam menyampaikan untuk apa produk saya dibuat

Untuk membangun produk yang sukses di pasaran, saya baru sadar kalau ternyata sangat penting untuk bisa mendeskripsikan secara mudah. Jadi tujuan awal saya dalam membuat Site2Static sebenarnya untuk bisa meng-copy semua jenis website, tapi di tengah jalan ternyata ada penghalang di sisi teknikal, karena saya pakai AWS Lambda, sebuah Function As A Service, di mana si function tersebut hanya bisa berjalan maksimal 15 menit. Jadi untuk mengcopy website yang cukup kompleks (seperti blog) itu maka akan selalu gagal, makanya saya ganti tujuan aplikasi untuk fokus ke “one-page“ saja seperti website portfollio, atau landing page.

  1. Self-awareness

Ini sangat penting, karena saya orang yang sangat suka untuk membangun produk digital dari hasil ngoding, kadang suka lupa kalau sudah berjam-jam di depan laptop.
Apalagi ketika debugging, bisa sampai stres dan bikin kepala pusing hahaha.
Kesehatan mental dan fisik masih tetap yang terpenting bagi saya, jadi selalu menyempatkan diri untuk tidur malam lebih awal, dan diganti untuk kerja di waktu subuh. Yup, saya bukan orang yang suka begadang ;)

  1. Berbicara dengan calon customer

Kesalahan paling fatal bagi engineer seperti saya adalah terlalu suka di bidang teknikal (ngoding), membuat sesuatu dulu tanpa berbicara dengan calon customer. Dan itu sangat buruk, misalnya kamu membuat sesuatu selama satu tahun, gak pernah meminta feedback selama proses itu, dan ketika launching itu biasanya apa yang customer inginkan dan kebanyakan dari asumsimu itu bisa saja salah besar.
Untuk mengatasi itu, sekarang saya mencoba untuk tidak ngoding dulu, tapi membuat landing page untuk ide saya, dan mencoba gather feedback sebanyak-banyak nya, sambil merancang MVP-nya. Sangat penting untuk tidak membuat sesuatu yang sempurna di awal, karena saya tidak mau menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membuat sesuatu yang akhirnya tidak ada orang yang pakai.

  1. Onboarding

Ini lebih ke sisi User Experience, karena saya membuat produk yang cukup baru di pasaran, sangat penting untuk “menggiring“ gimana dalam menggunakan aplikasi yang kita buat. Kalau untuk di Site2Static, user berada di landing page, klik tombol Start, langsung disuguhkan login ke Netlify, tanpa memberi tahu sebenarnya untuk apa itu dan kenapa harus pakai Netlify, kemudian berada di dashboard dan lagi-lagi user dibiarkan begitu saja, harusnya diberi tahu untuk langkah-langkah selanjutnya.
Begitulah kesalahan saya, tapi saya tidak menyesal, karena itu masih MVP, masih beta, jadi ya memang nothing perfect.

  1. Logging/Analytics

Sangat penting untuk mengetahui ketika ada churn, jadi kita bisa tahu apa yang menyebabkan user itu tiba-tiba keluar dari website kita, dari situ bisa digali insights nya lebih dalam lagi supaya bisa diperbaiki, sedikit menyesal kenapa tidak saya pasang tools semacam Google Analytics.

  1. Gagal lebih cepat

Dari awal sebenarnya saya tidak mengharapkan Site2Static untuk langsung sukses dalam sehari semalam. Dan itu hampir mustahil karena itu juga produk pertama, jadi memang tujuannya hanyalah untuk pembelajaran, yang mana sebenarnya bisa dibilang cukup sukses, saya jadi lebih mengerti banyak hal, terutama di bidang marketing, seperti membuat video trailer product dan menguploadnya ke Youtube jadi makin menambah semangat saya untuk jadi Youtuber juga.

  1. User suka? gak cukup

Menjadi solo founder yang bootstrapping tentu saja harus memikirkan matang-matang tentang semua jenis pengeluaran, budget saya sangat terbatas, oleh karena itu saya tidak bisa “membakar uang“ hanya untuk membeli iklan berbayar seperti Facebook Ads atau Google Ads. Jadi jalan lainnya adalah saya membuat produk yang benar-benar dicintai oleh user, tidak cukup hanya suka aja, tapi benar-benar “cinta mati”, karena itu yang bakal menghadirkan kabar yang bagus dari mulut ke mulut, yang mana adalah suatu jenis marketing yang sangat dahsyat efeknya.

  1. Domain, logo, gak penting

Seringkali saya terjebak untuk memikirkan nama domain dan logo yang pas, tapi itu membutuhkan waktu yang lumayan lama. Akhirnya saya putuskan untuk memperbaiki kebiasaan buruk itu dengan cara pakai generator.
everydomain.co - untuk cari domain
favicon.io - untuk generate logo
landen.co - bikin landing page secepatnya

  1. Marketing

Ini topik yang lumayan susah menurut saya, dan mungkin perlu waktu beberapa tahun untuk benar-benar memahami itu, tapi akhir-akhir ini saya mendapati sebuah akun twitter yang membahas hal itu secara singkat dan mudah dimengerti (https://twitter.com/GoodMarketingHQ). Terima kasih Harry :)

  1. Ide gak ada harganya

“Ideas are worthless, execution is everything“ — begitulah kata orang.
Dan itu memang benar, sebenarnya ide saya membuat Site2Static adalah mengambil dari SiteSauce.app , bahkan saya sempat bertengkar dengan foundernya di twitter hahaha. Sudah saya jelaskan bahwa saya tidak benar-benar meng-copy semuanya, saya hanyalah mengambil sebagian ide-nya yang saya sesuaikan dengan masalah yang ingin saya pecahkan. Dan kompetisi di dunia bisnis sudah sangat biasa terjadi, justru kompetisi adalah merupakan strategi yang paling ampuh menurut saya, kenapa? Karena market-nya sudah tervalidasi, ada orang yang mau membayar untuk aplikasi itu, tinggal bagaimana pandainya kita saja untuk membuat diferensiasi dan unique value apa yang akan bisa berikan. Ingat kisah Facebook yang didirikan padahal di saat itu ada yang lebih populer (Friendster)?

  1. Pentingnya ship faster

Salah satu mindset yang menurut saya paling penting dalam membangun sesuatu, entah itu buku, blog, atau video. Intinya adalah untuk segera launching walaupun masih belum sempurna, karena sangat jarang ada yang langsung membuat yang sempurna di awal, dan dengan kita launching versi yang tidak sempurna itu kita bisa mendapatkan feedback lebih cepat. Saya sangat bersyukur karena telah sempat membeli paket seumur hidup dari Crello.com seharga $49 USD. Semua video thumbnail di youtube saya buat pakai itu dan cepat sekali selesainya, mungkin cuma butuh waktu setengah jam, saya seakan-akan punya tim desainer sendiri hahaha. Sebuah pembelian software terbaik saya di tahun 2020 ini.

  1. Komentar: “Bagus“ & “Keren“

Itu hanya sebagai mood booster, bukan menjadi suatu validasi, karena orang lain hanya mencoba berlaku baik pada kita. Justru yang saya harapkan adalah feedback, review yang jujur meski itu menyakitkan tapi untuk efek jangka panjang jelas lebih baik.

  1. “Scratching your own itch”

Mari bersikap realisis, kebanyakan product yang gagal di pasaran adalah karena foundernya kehabisan energi, kenapa? Itu karena mereka mencoba memecahkan persoalan orang lain. Sangat beda jadinya jika kita memecahkan masalah kita sendiri, setiap hari bakalan ada saja rasa motivasinya, dan itu sangat bagus untuk di jangka panjang.

  1. User gak peduli tech stack

Betul, seberapa hebat tech stack mu, user gak bakalan peduli. Yang lebih mereka pedulikan itu justru di sisi UX nya. Jadi ketika membuat suatu produk usahakan pakai teknologi yang kamu sudah familiar saja.

  1. Komunitas itu segalanya

Menjadi seorang solo founder itu terkadang juga bisa jadi sangat kesepian, apalagi untuk seorang yang single seperti saya hahhaha. Maka dari itu komunitas berperan penting di sini. IndieHackers.com menurut saya masih jadi forum terbaik, karena orang-orangnya sangat supportif, dan topiknya juga sangat berbobot.

  1. Shiny object syndrome

Tidak dapat dipungkiri bahwa ketika kita sedang mengarjakan suatu project, selalu saja ada hasrat yang ingin segera cepat-cepat pindah ke project yang lain, karena memang terasa lebih menantang atau mungkin potensinya lebih besar. Saya bahkan selalu mencatat jika ada ide bisnis yang terlintas di kepala saya, sampai sekarang daftar itu sudah mencapai 100 lebih. Tapi saya sadar, bahwa saya memang perlu fokus di satu project, paling tidak sampai MVP nya jadi dulu.

  1. Suka membuat sesuatu

Sebagai seorang Maker, tentu saja harus ada passion dalam membuat suatu produk. Tidak hanya itu saja, tapi juga harus pandai dalam hal project management, karena kita tidak punya manager yang menyuruh kita untuk melakukan suatu hal. Harus bisa inisiatif sendiri, untuk itu Trello merupakan sebuah tools yang sangat wajib bagi saya, supaya bisa accountable, bahkan saya memang sengaja membuat roadmapnya Site2Static di Trello saya buka untuk publik.

  1. Programming adalah tentang menyelesaikan masalah

Banyak programmer si luar sana yang tidak happy dengan kerjaannya sekarang, saya sebenarnya cukup prihatin, mungkin karena mereka sudah terlalu lama bekerja untuk orang lain jadinya jenuh, mereka melihat profesi seorang programmer itu monoton seperti mengerjakan fitur dan bug fixing saja. Padahal tidak! banyak orang yang lupa kalau programming itu ada untuk solving problem, sama dengan yang sedang saya lakukan di project saya yang baru, StaticSheet — yang harapannya bisa meng-generate puluhan website hanya dari Google Sheet. Apakah saya sudah tahu langkah-langkah untuk membuatnya dari awal sampai akhir? Tentu saja tidak, saya akan mulai dari langkah kecil-kecil dulu, menulisnya di Trello supaya tidak lupa, dan mencoba mencari bagaimana solusinya dengan searching di Google. Yup, sebenarnya hanya semudah itu, apalagi kita sekarang punya StackOverflow yang hampir bisa menjawab semua masalah teknikal kita.

  1. Selalu memberi value

Entah itu di sosial media atau di manapun, selalu pikirkan bagaimana untuk kamu bisa memberikan hal yang valueable kepada orang lain, jangan hanya mementingkan diri sendiri. Oleh karena itu saya sangat jarang dan hampir tidak pernah untuk memposting memes di sosial media. Saya sangat berusaha untuk menjaga value itu, jadi orang yang melihat timeline saya pasti akan mendapatkan sesuatu yang berharga.

  1. Produksi lebih banyak konten

Jangan jadi consumer terus menerus, contohnya seperti di Facebook, memang gampang nge-post sesuatu hal yang singkat di beranda, tapi bagaimana kalo itu energi nya dialihkan ke nge-blog misalnya, karena bakalan jauh lebih berguna di long-term.

  1. Growth hacking

Salah satu skill yang belum saya kuasai, tapi lumayan mengerti hal dasarnya. Kalau sejauh ini sih saya biasanya masuk ke komunitas dan mulai menjadi bagian dari itu. Tapi bagian yang paling tricky adalah bagaimana caranya untuk menjadi asli (genuine) supaya tidak terkesan terlalu “berjualan“. Yang saya sudah lakukan akhir-akhir ini baru di grup facebook, dan cukup berhasil. Kedepannya saya ingin mencoba masuk ke komunitas di sub Reddit.

  1. Jangan tukarkan waktu dengan uang

Entahlah tapi ide untuk menjadi seorang Freelancer itu sangat tidak cocok bagiku.
Karena itu sama saja dengan kerja di perusahaan, bedanya adalah kamu punya sedikit kontrol untuk “memecat“ client yang tidak sesuai denganmu. Tapi tetap saja meskipun hourly rate kamu mahal banget, kamu masih menggadaikan waktu untuk uang.
Beda halnya jika kamu invest ke diri kamu sendiri, dengan membangun bisnis, kamu bisa mempunyai kesempatan untuk misalkan hanya tidur-tiduran saja tapi kamu bisa dapat uang, itu kalau sistemnya sudah berjalan sih.

  1. Apa selanjutnya?

Belakangan ini saya sangat menyukai static sites dan no code movement, dan ada ide untuk membuat sebuah website kurasi untuk topik yang saya sedang sukai, tapi tidak menemukan solusi yang pas di luar sana, ada sih sebagian kecil, tapi harganya tidak cocok di kantong saya, akhirnya saya putuskan untuk membuatnya sendiri. Dari situlah saya langsung kepikiran untuk membuat StaticSheet, landing page nya sendiri saya buat dengan bantuan Site2Static, sehingga cuma memerlukan waktu sekitar 4 jam saja sampai itu jadi semua. Misi saya dalam setahun kedepan memang untuk membuat tools bagi founders, yang tidak mahal, gampang digunakan, dan membantu mereka untuk bisa deliver MVP lebih cepat. Pertimbangkan untuk subscribe supaya bisa tahu kelanjutan saya dalam membangun StaticSheet: